Inilah Kisah Dan Bukti Yang Menerangkan Nabi Khidir AS Yang Masih Hidup Sampai Sekarang Dan Tinggal Di Bumi Hingga Akhir Zaman Nanti




Inilah Kisah Dan Bukti Nabi Khidir AS Yang Masih Hidup Sampai Sekarang Dan Tinggal Di Bumi Hingga Akhir Zaman Nanti, Nabi Khidlir AS adalah anak dari bibi Raja Iskandar Dzul Qarnain.

Inilah Kisah Dan Bukti Yang Menerangkan Nabi Khidir AS Yang Masih Hidup Sampai Sekarang Dan Tinggal Di Bumi Hingga Akhir Zaman Nanti
Inilah Kisah Dan Bukti Yang Menerangkan Nabi Khidir AS Yang Masih Hidup Sampai Sekarang Dan Tinggal Di Bumi Hingga Akhir Zaman Nanti
Raja Iskandar Dzul Qarnain Adalah Raja yang taat beribadah dan mampu berkomunikasi dengan malaikat. Saat Nabi menjabat sebagai mentri dan mengantarkan suatu perjalanan Raja Iskandar Dzul Qarnain di tempat yang sangat gelap gulita.

Perjalanan tersebut dalam rangka untuk menemukan sumber air di bumi yang dinamakan Ainul Hayat, yaitu sumber air kehidupan yang barang siapa meminum seteguk air tersebut maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia sendiri yang memohon kepada Allah agar supaya dimatikan.

Dan pada saat perjalanan tersebut Allah SWT memberi wahyu kepada Nabi Khidlir AS bahwa Ainul Hayat hanya diperuntukkan kepadanya bukan kepada yang lain tidak terkecuali raja Iskandar Dzul Qarnain.

maka hanya Nabi Khidirlah yang menemukan tempat tersebut dan hanya beliaulah yang mandi dan minum air dari sumber mata air kehidupan atau Ainul Hayat, Demikianlah sesungguhnya yang bermaksud mencari Ainul Hayat adalah Raja Zulkarnain, Akan tetapi Allah berkehendak lain dan Yang mendapat anugerah Allah untuk hidup abadi adalah Nabi Khidir AS.

Nabi Allah yang penuh misteri adalah nabi Khidir AS. Karena Keberadaannya sampai sekarang masih misterius. Para ulama dan auliya’ berpendapat bahwa Nabi Khidir AS masih hidup.

Ad-Daraqathni riwayat dari Ibnu ‘Abbas: “Nabi Khidhir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun saat musim haji, dan mereka berdua saling mencukur (tahallul) kepala satu sama yang lain.” Ibnu Hajar mengatakan sanadnya lemah. Sementara riwayat Ahmad dalam az-Zuhd dan ath-Thabarani dengan penambahan “Mereka berdua berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis.” Ibnu Hajar mengatakan sanadnya hasan.

Dalam “Musnad Abu Usamah” diterangkan, “Nabi Khidhir di samudra dan Nabi Ilyas di daratan, mereka bertemu tiap malam di samping tembok yang dibuat Dzul Qarnain.” (Syawahid al-Haq, hlm. 200 tentang 4 hadits yang dibawakan Ibnul Jauzi)

Al-Hafizh al-Munawi mengatakan bahwa hadits tentang ini dha‘if, akan tetapi menjadi kuat (hasan) karena banyaknya riwayat dengan lafazh yang berbeda-beda termasuk dalam al-Mustadrak. Kesimpulannya, hadits-hadits di atas adalah hasan atau shahih bukan lagi dha‘if. (Faidh al-Qadir juz 3 hlm. 618-619.)

Syaikh Yusuf an-Nabhani mengatakan: “Keterangan bahwa Nabi Khidhir masih hidup adalah sudah menjadi ketetapan para wali dan didukung oleh para ahli fiqh, ahli ushul dan hampir mayoritas ahli hadits, begitulah yang dikatakan oleh Syaikh Abu ‘Amr bin ash-Shalah yang dinukil oleh an-Nawawi dan menyetujuinya.” (Syawahid al-Haq, hlm. 198-200)

Syaikh Yusuf an-Nabhani menambahkan, sejumlah guru-guru besar mungkin tak terhitung lagi jumlahnya, diantara beliau ada yang pernah berkumpul dalam satu majelis bersama Nabi Khidhir. Izzuddin bin Abdissalam saat di beri pertanyaaan apakah Nabi Khidhir masih hidup, beliau menjawab : “Demi Allah, tujuh puluh para shiddiqin mengabarkan bahwa mereka melihat Nabi Khidhir dengan mata kepala mereka.”

Masih kata Yusuf an-Nabhani: “Demi Allah, telah mengabarkan kepadaku tidak hanya satu waliyullah, bahwa mereka pernah berkumpul dengan Nabi Khidhir. Bahkan demi Allah, para auliya’ mengabarkan kepadaku bahwa aku pernah berkumpul satu majelis dengan Nabi Khidhir dan bertanya sesuatu kepadaku dan aku menjawabnya, namun aku tidak mengenalnya karena orang yang dapat mengenalnya hanyalah orang yang mempunyai nur (cahaya keimanan). Keterangan ini disampaikan karena Ibnul Jauzi ingkar terhadap masih hidupnya Nabi Khidhir serta berselisih pendapat dengan para wali yang shiddiqin”.

Menurut al-Yafi‘i, keterangan yang diberikan Ibnul Jauzi dengan menyampaikan hadits-hadits tentang masih hidupnya Nabi Khidhir adalah saling bertentangan. Beliau ingkar tapi anehnya juga meriwayatkan 4 hadits muttashil yang menerangkan tentang masih hidupnya Nabi Khidhir (Ibid. hlm. 200 dan Fatawi Haditsiyyah hlm. 218.)

Di antara ulama yang mengatakan Nabi Hidhir masih hidup dan bukti bahwa Nabi Khidhir masih hidup adalah:

1. Shahabat Rasulullah Sayyidina Ali yang melihat Nabi Khidhir berada di Ka’bah. (Inayatul Muftaqir hlm. 52)

2. Al-Mursyi, murid Syaikh Abul Hasan asy-Syadzili menjelaskan : “Nabi Khidhir masih hidup, dan aku benar-benar telah bersalaman dengan tanganku ini. Pernah suatu hari Nabi Khidhir As. mendatangiku dan beliau mengenalkan diri dan aku minta supaya diberi tahu tentang arwah-arwah orang muslim, apakah disiksa atau diberi nikmat? Andai datang kepadaku seribu ahli fikih dan mendebatku bahwa Nabi Khidhir telah wafat, maka aku tidak akan mengikuti pendapat mereka.” (Al-Madrasah asy-Syadziliyyah hlm. 186)

3. Abul Hasan asy-Syadzili yang pernah berjumpa Nabi Khidhir di padang Aidzab. (An-Nafahat asy-Syadziliyyah hlm. 280.)

4. ‘Umar bin Sinan mengatakan: “Kami berpapasan dengan Ibrahim al-Khawwash, aku berkata kepadanya: ‘Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkan yang engkau lihat dalam perjalananmu!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku bertemu dengan Nabi Khidhir As. dan minta untuk menemaniku dalam perjalanan, lalu aku khawatir malah merusak sifat tawakalku (kepada Allah) dengan merasa nyaman bersama dia, maka kemudian aku berpisah dengannya.” (Risalah al-Qusyairiyyah hlm. 166. )

Baca juga:

5. Bisyr al-Hafi menceritakan: “Aku mendengar Bilal al-Khawwash berkata: ‘Satu waktu aku berada di Padang Tih Bani Isra’il. Tiba-tiba seorang laki-laki menemaniku berjalan, dan aku keheranan. Kemudian aku diberi ilham oleh Allah bahwa laki-laki tersebut adalah Nabi Khidhir As. Kemudian aku bertanya kepada laki-laki tesebut: ‘Demi kebenaran Allah yang haq siapakah saudara?’ Laki-laki tersebut menjawab: ‘Aku saudaramu, Khidhir.’ Lalu aku katakan: ‘Aku bermaksud bertanya kepadamu?’ ‘Bertanyalah!’ jawab Khidhir. Lalu Bilal bertanya: ‘Bagaimana pendapat engkau tentang asy-Syafi’i ra.?’ Khidhir menjawab: ‘Dia laki-laki yang shiddiq …’” (Ibid. hlm. 405.)



loading...