Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML Atas

Lagi Ngetren di Indonesia Nih! Beli Al Baik Lewat Tokopedia

Sedang terjadi demam tak biasa dalam bisnis kuliner Indonesia. Lebih tepatnya, demam ayam goreng Arab Saudi.

Sebelum Meninggal Akibat Kecelakaan, Anak Ini Membaca Surat Al Fatihah Tiga Kali

Kupikir eksperimen makan ayam goreng waralaba kaki lima selama satu minggu penuh yang dulu kulakukan, membuktikan kalau aku manusia fanatik pecinta ayam goreng kripsi. Rupanya aku belum terlalu fanatik. Setidaknya jika dibandingkan mereka yang menggemari ayam goreng krispi bikinan Arab Saudi, mereknya Al Baik, sampai-sampai rela nitip sama kawan yang sedang umroh untuk membawakannya ke Indonesia.

Komunitas penggemar Al Baik jelas lebih fanatik dariku. Makanya permintaan terhadap ayam goreng krispi Saudi ini terus membesar dua tahun belakangan. Sampai-sampai banyak orang menjadi reseller-nya di Tanah Air lewat situs belanja online.

Aku menemukan belasan toko online di Tokopedia yang menjual ayam Al Baik. Itu baru Tokopedia. Di marketplace lainnya seperti Shopee, ada sekitar 40-an toko online yang menjual produk ayam goreng serupa.

Penjual ayam macam apa yang kepikiran menerbangkan ayam goreng cepat saji dari Arab dan menjualnya (dalam kondisi beku untuk dipanaskan lagi lewat penggorengan ataupun microwave) macam Tokopedia dan Shopee? Pembelinya setali tiga uang. Secinta-cintanya sama ayam, ngapain juga rela membeli ayam siap saji yang paling banter sudah berjarak empat hari ketika digoreng dari Arab Saudi? Memang apa bedanya dari ayam goreng krispi lain yang mudah kita temukan di pinggir jalan?

Karena penasaran, aku menghubungi Kedai Mumtaz, toko online yang menjual beragam penganan dan oleh-oleh asal Arab Saudi. Salah satu dagangannya yang paling laris adalah ayam goreng Al Baik. Pemiliknya bernama Farah Diba Afnan, 28 tahun, memulai bisnis sejak setahun lalu. Ia bilang basis penggemar Al Baik di Indonesia betulan besar. Kebanyakan adalah masyarakat beragama Islam, yang rindu citarasa makanan siap saji Tanah Suci.

Inilah yang kalian dapat dari paket AlBaik seharga Rp120 ribu.

Al Baik memang mudah ditemukan jamaah haji atau umrah yang mampir ke Makkah, Madinah, atau Jeddah. Dalam sebulan, Farah mengaku bisa menjual 50 hingga 150 paket Al Baik, online maupun offline. Farah mengaku memperoleh pasokan Al Baik dengan berbagai cara. Mulai dari menitip beli ke teman, saudara, atau travel perjalanan umrah. Frekuensi pembelian langsung dari Arab Saudi pun makin lama makin sering, sampai lima hari sekali. Menurut Farah, ayam Al Baik di Indonesia benar-benar sedang ngetren!

“[Al Baik itu] pengobat rindu bagi yang sudah melakukan perjalanan haji, atau bagi yang belum pernah ke Saudi,” kata Farah saat diwawancarai VICE Indonesia. Rasa ayamnya memang beda gitu? Menurut Farah sih iya. “Al Baik berbeda dari segi aroma dan rasa yang khas, rasa ayam Al Baik hampir tidak pernah ditemukan di Indonesia.”

Farah juga punya alasan lain kenapa Ia memilih berbisnis Al Baik di Indonesia. “Yang membuat saya tertarik menjual Al Baik, karena ownernya adalah orang Palestina yang Insya Allah tidak diragukan lagi dalam pemotongan dan pengolahan dagingnya. Jelas halalan toyyiban.”

Oke, ini sedikit latar belakang Al Baik kalau kalian belum familiar. Al Baik merupakan restoran cepat saji di yang berkembang sejak tahun 1974 di Kota Jeddah, Arab Saudi. Pendirinya, Shakour Abu Ghazalah, melihat potensi cerah bisnis makanan cepat saji di Saudi. Al Baik mengadopsi penyajian ayam goreng siap saji khas restoran Amerika seperti McDonalds atau KFC, tapi dengan citarasa khas Arab, seperti bumbu rempah-rempah dan saus bawang putihnya yang khas. Seperti disebut sebelumnya, cabang-cabang Al Baik hanya terdapat di empat kota di seluruh dunia. Semuanya di Arab Saudi: Jeddah, Makkah, Qassim dan Madinah. Makanya jamaah haji dan umrah sangat familiar sama ayam goreng satu ini. Oh iya, di negara asalnya, penduduk Saudi juga menggilai Al Baik. Pernah sampai terekam video konsumen saling injak saat cabang baru restoran Al Baik baru buka.

Pendiri pertama Al Baik, seperti disampaikan Farah, memang berasal dari Palestina. Tetapi ternyata ayam-ayam Al Baik diimpor dari Brasil dan dimasak memakai teknologi “broasting” dari Amerika Serikat. Walau tidak sepenuhnya asli Saudi, jika membaca komentar pembeli di lapak-lapak online, rasa ataupun asal ayamnya memang nomor dua (kalau enggak gitu ngapain juga beli ayam goreng beku dari Saudi toh?!). Alasan utamanya tentu saja mengobati kerinduan umat muslim pada Tanah Suci.

Budayawan Ben Sohib, yang aktif mengamati komunitas Arab-Indonesia dan tren mencintai budaya serba Saudi di Tanah Air, memandang ada faktor lain memicu larisnya ayam goreng ini. Yakni semangat sebagian penduduk beragama Islam di Indonesia mendukung bisnis sesama muslim. Sentimen membangkitkan ekonomi Islam itu makin kencang setelah gerakan 212 mencuat di Ibu Kota, merembet ke kota-kota lain. "[Populernya Al Baik] Bagian dari kesadaran keberislaman masyarakat Indonesia. Dalam hal ini kesadaran mendukung ekonomi Islam, dan itu berkelindan dengan Arab," ujarnya saat dihubungi VICE Indonesia.

Ayamnya beku, jadi mending dipanasin lagi. Pakai microwave bisa, tapi kayaknya lebih enak digoreng pakai minyak jelantah bekas kemarin supaya gurih banget.

Mahar Mulyadi salah satu orang Indonesia yang pernah mencicipi Al Baik. Ia pertama kali mencoba ayam Al Baik saat dirinya menjalani umrah pada 2014. Dia mengakui terkesan dan masih ingat betul ayam goreng krispi tersebut. Bukan karena rasanya, tapi akibat porsinya yang super besar.

“Yang bikin gue tertarik adalah porsinya yang jumbo,” kata Mahar kepada VICE. “Ketika gue makan pertama kalinya, ternyata sambelnya agak beda. Kuat banget rasa bawangnya dan terasa aroma makanan Timur Tengah. Jadi agak sedikit beda sama restoran ayam khas Amerika.”

Sayangnya Mahar ternyata bukan penggemar fanatik Al Baik (ckckckck). Dia bahkan kaget mendengar ada orang Indonesia rela membeli paket Al Baik seharga Rp120 ribu, yang mana di beberapa toko harus preorder lebih dulu. “Seriusan elo mau bungkus itu ayam dari Arab? Sampai Indonesia itu ayam sudah sisa logo bungkusnya doang.”

Mahar keliru. Aku sudah memesan langsung Al Baik ke satu toko online. Sesuai janji, ayam goreng Tanah Suci itu datang tanpa perlu menunggu lama alias ready stock. Aku memesan sekitar jam makan siang dan diantar langsung pada hari yang sama. Memang lebih mahal dua kali lipat dari harga aslinya, tapi jelas lebih murah daripada harus ke Saudi dong.

Paket Al Baik yang dinanti-nanti tiba agak sorean. Setelah kubuka, isinya tak menarik sama sekali. Semuanya memang sudah matang, tapi ya namanya dimasukan ke dalam pendingin, aku bisa berharap apa? Kentang gorengnya pucat, rotinya terlihat tidak menggiurkan. Aku dapat empat potong ayam berukuran besar yang warnanya juga kayak sayuran layu. Sebelum dimakan, konsumen wajib memanaskannya dengan berbagai cara. Daripada dipanasin pakai microwave, aku pilih menggorengnya ulang pakai minyak jelantah yang sudah dipakai beberapa kali. Lumayan, harusnya bisa tambah gurih (tapi, plis jangan ingetin aku soal kolesterol).

Ayam-ayam impor itu segera terjun bebas dalam rendaman minyak panas, untuk kedua kalinya. Sensasi bau ayam goreng bercampur rempah-rempah Timur Tengah terasa amat kuat dalam waktu singkat. Setelah ditiriskan, aku segera menyantapnya. Jujur aku tidak paham sih bumbu apa saja yang digunakan, yang aku tahu hanya ada dua jenis ayam goreng: Enak dan enak banget. Buatku, Al Baik memang... ENAK BANGET!

Oke. Rasa daging ayamnya juara sih.

Harus kuakui kehebatan ayam kebanggaan Saudi ini. Meskipun sudah dua kali diproses dalam penggorengan, masuk kabin pesawat, melewati proses pembekuan berhari-hari dan berulangkali, kemudian diistirahatkan menunggu pembeli ayam ini masih terasa super enak! Kulitnya masih renyah, dan daging yang masih legit dilumuri bumbu khasnya.

Kombinasi terbaik cobalah kombinasi: kulit ayam, saus bawang putih, dan saus tomat. Tapi itu aja poin plusnya. Rasa kentang gorengnya setelah dipanaskan lagi biasa aja, cenderung hambar. Rotinya? Mending buang aja deh.

Tapi....rasa kentangnya enggak banget. Rotinya apalagi.

Akhirnya aku bisa sedikit memahami kenapa ada sebagian orang yang sudah menunaikan haji dan umrah kangen mencicipi Al Baik. Apakah layak membeli kenangan Tanah Suci seharga Rp120 ribu? Tergantung selera dan niat orang masing-masing sih. Aku sih yang jelas jatuh hati sama rasa ayam dan saus bawang putihnya, tapi kalau beli lagi kayaknya masih pikir-pikir deh. Apalagi ayam goreng lokal yang tidak kalah lezat gampang kita temukan di banyak tempat.

Gara-gara ayam Saudi ini aku jadi kepikiran, bisa enggak ya nitip dua paket Al Baik ke Habib Rizieq pas beliau balik ke Indonesia nanti?