Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML Atas

Terungkap Sudah Kenapa Siti Yang Sudah Lama di Arab Tak Mau Pulang Ke Indonesia

JADI TKW kebanyakan hanya 2-3 tahun, setelah itu kembali ke Indonesia. Tapi Ny. Siti, 45, sejak berangkat tahun 2005, sampai sekarang tak mau pulang. Ternyata dia digendak majikannya. Tinggal kini Gustadi, 50, yang merana dan kedinginan di Surabaya. Akhirnya kuli bangunan itu menggugat cerai istrinya.

Terungkap Sudah Kenapa Siti Yang Sudah Lama di Arab Tak Mau Pulang Ke Indonesia

Orang mau bekerja jadi TKI dan TKW ke luar negeri, semata-mata karena ingin mengubah nasib. Di negeri sendiri negara tak mampu memberinya pekerjaan, terpaksa mbabu pun ditempuh asalkan bisa makan. Tapi tak semuanya bisa mengubah nasib. Ada satu dua yang malah setelah jadi TKI-TKW rumahtangganya berantakan, gara-gara pasangan tergoda perempuan/lelaki lain.

Siti warga Wonocolo Surabaya salah satu di antara TKW yang justru berantakan rumahtangganya. Keluarga yang dibina puluhan tahun hancur lebur karena dia terpikat Wan Abud lelaki Arab yang jadi majikannya. Dia tak boleh kembali ke Indonesia, cukup melayani majikannya dalam segala lini, dari dapur sampai kasur.

Tahun 2005 Siti masih menjadi istri setia Gustadi, yang pekerjaan sehari-hari jadi tukang batu. Kerja kasar seperti itu memang tak menjanjikan uang banyak, bisa pas-pasan saja sudah matur nuwun. Maka Siti pun minta izin untuk mendaftar jadi TKW. Suami sebetulnya keberatan, tapi karena gak sembada (tak mampu) akhirnya ya terserah sajalah.

Sejak Siti jadi TKW, ekonomi Gustadi di Surabaya memang mulai membaik. Tiap bulan istri selalu kirim uang riyal ke rumah. Tapi ya uang saja, telpon-telponan jarang, surat-suratan apa lagi. Begitulah resiko punya istri jadi TKW. Tiap bulan dikirimi benggol, tapi dia punya bonggol nganggur nggurr!

Setelah dua tahun Gustadi berharap Siti pulang. Ternyata tak kesampaian, dia memperpanjang kontraknya. Empat tahun kemudian begitu juga. Tahu-tahu sudah lebih dari 10 tahun Siti tak pernah mau kembali.

Pernah Gustadi telpon, pulang sajalah wong ekonomi keluarga sudah membaik, tingkat pertumbuhannya mencapai 7%, infrastruktur sudah terjamin dan tak punya utang luar negeri.

Tapi apa jawab Siti? “Aku suruh pulang? Makan apa nanti, wong kamu kerjanya tak jelas. Sudahlah, tak usah mikir saya, yang penting kamu tiap bulan tak kirimi uang.” Begitu katanya.

Coba, di mana harga diri Gustadi sebagai seorang suami? Benggol memang selalu terjamin, tapi bonggol sudah 13 tahun nganggur, rek!

Ini sungguh menjadi tanda tanya besar bagi Gustadi. Kenapa istrinya kok jadi betah di Arab Saudi, padahal setahunya di Indonesia Siti tidak sedang dicari-cari polisi, terlibat Saracen dan MCA juga tidak. Jadi kenapa gerangan? Apakah Siti ada hubungan dengan orang ketiga di sana?

Sampailah kemudian Gustadi ketemu tetangga kampung yang bekas TKI di Arab Saudi. Kebetulan dia kenal dengan Siti, sehingga tahu apa yang terjadi di sana. Bahkan Gustadi diminta tak usah memikirkan istrinya lagi, karena sudah kerasan digendak majikannya, Wan Abud yang kaya raya.

“Siti di sana enak, sehari-hari tinggal mamah karo mlumah….” Kata lelaki itu, yang terasa bagaikan petir di telinga Gustadi.

Kini jelas sudah informasi itu, mengajak pulang Siti sama saja percuma. Maka mumpung masih ada kesempatan, dia akan menggugat cerai saja ke Pengadilan Agama Surabaya. Dia ikhlaskan Siti dan tinggal ganti cari istri yang nrimo, tidak banyak tingkah. “Perempuan kan masih banyak di Surabaya,” kata Gustadi menghibur diri.