Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML Atas

Cari Rezeki dengan Cara Pesugihan, Kondisi Wanita Ini Saat Sekarat Sungguh Mengerikan! Naudzubillah

Harta memang membutakan mata hati orang. Demi harta, orang rela berbuat apa saja meski menyimpang dari agama. Inilah satu kisah lagi ihwal manusia tersebut dengan akhir hayatnya yang mengenaskan.

Cari Rezeki dengan Cara Pesugihan, Kondisi Wanita Ini Saat Sekarat Sungguh Mengerikan! Naudzubillah

Sudah sebulan Bu Marni 65 tahun (bukan nama sebenarnya) dirawat di rumah sakit. Kondisinya tiada kunjung pulih, malahan kian memprihatinkan. Tubuhnya yang dulu gemuk, kini semakin kurus. Pakaian yang dikenakannya pun terlihat morat-marit.

Rambutnya awut-awutan. Belum lagi sikapnya yang semakin tak karuan. Dari cara bertuturnya tak jelas arahnya, cenderung ngawur.

Menurut pengakuan Adi, anaknya, ibunya tengah menderita liver dan darah tinggi. Setahun yang lalu, ibunya juga pernah mengalami hal serupa, namun bisa sembuh. Kali ini rupanya harus dirawat sampai sedemikian lamanya. Keluarganya sudah habis-habisan berkorban harta, berikhtiar untuk kesembuhannya. Sayangnya, belum ada hasilnya.

Yang terjadi justru sebaliknya, kondisi Bu Marni perlahan berubah drastis, baik fisik maupun mentalnya. Tubuhnya terbujur di atas pembaringan. Memang mulutnya masih bisa berkata-kata, namun sudah tak fokus. Demikian pula gerakan-gerakan tangannya.

Malahan, beberapa orang yang membesuknya menyimpulkan kalau perempuan itu sudah tidak waras. Sebab tingkahnya aneh, seringkali telunjuknya mengacung-acung ke atas, sembari marah-marah.

Di penghujung tahun 2007 itu, sepertinya menjadi penentuan hidup Bu Marni setelah sekian lama berjuang melawan penyakitnya. Hari itu ia tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan hidupnya. Ia tengah mengalami saat-saat yang menakutkan, yakni sakaratul maut.

Matanya mendelik-delik, tangan kirinya memegangi kepalanya dan mengurai rambutnya hingga awut-awutan, tangan kanannya mengacung-acung. Mukanya pucat, menahan rasa sakit yang tiada tara.

Perempuan itu merintih dan terus mengerang. Rintihannya sungguh menyayat hati, membuat orang-orang di sekitarnya larut dalam kesedihan. Sebentar lagi sepertinya meregang nyawa. Tak henti-hentinya mereka mengusap butiran-butiran air matanya.

Mereka tampak pasrah menerima apa pun yang terjadi nantinya, termasuk kenyataan bila Bu Marni meninggalkan mereka. Terlebih lagi setelah melihat pemandangan yang sungguh menyedihkan; dari mulut, hidung serta telinga Bu Marni, darah mulai merembes. Yang bisa mereka lakukan hanya berdoa untuk Bu Marni.

Kematian Bu Marni menyisakan kepedihan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Lebih-lebih suami dan anak-anaknya. Mereka sungguh tak menyangka kalau perempuan yang dulunya dikenal sebagai orang baik-baik ini menemui ajalnya dengan kondisi mengenaskan.

Bukan kalimat istighfar atau kalimat thayyibah yang mengiringi kepergiannya meski keluarga terus menuntunnya tetapi erangan dan rintihan kesakitan.

**********************************************

Sewaktu hidupnya, sejatinya, Bu Marni tergolong orang yang tidak kekurangan. Kondisi ekonomi keluarganya cukup stabil. Suaminya punya bengkel sambil nyambi menjual ban-ban vulkanisir. Sementara anaknya ada yang memiliki restoran sehingga bisa menopang hidupnya.

Keluarganya sangat peduli pada Bu Marni. Hanya saja, dorongan untuk memiliki harta tersendiri tanpa menggantungkan kepada suami dan anak-anaknya lebih kuat dalam diri Bu Marni. Motivasi ini meletup-letup setelah kepincut dengan keberhasilan beberapa temannya.

Sebut saja Bu Siti, temannya, Tiga tahun sebelumnya, ekonomi Siti biasa-biasa saja. Tapi siapa menyangka, kini kehidupannya telah berubah. Mobil mewah. Rumahnya mentereng, dan pakaian-pakaiannya bermerk. Yang membuat Bu Marni ngiler juga adalah perhiasan yang dikenakan temannya dari gelang kaki, gelang tangan, cincin, anting hingga kalung.

**********************************************

Melihat teman-teman sebayanya sukses dalam berbagai usaha yang ditekuninya, Marni iri. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa sih kuncinya sehingga mereka bisa berubah demikian drastis dan seolah dimudahkan bisnisnya? Kenapa Siti begitu mudah membeli mobil dan rumahnya juga jauh lebih bagus ketimbang sebelumnya?

Padahal sekian lama berusaha, tak secepat ini. Tetapi kini, dalam waktu 2 tahun terakhir, perubahan yang terjadi pada teman-temannya demikian cepat.

Dorongan inilah yang membuat penasaran Marni. Ia bermaksud mencari tahu di balik kesuksesan teman-temannya itu. Ia pun memberanikan diri bertanya kepada Siti, salah seorang temannya yang dianggap sukses.

"Siti, aku lihat kamu semakin sukses beberapa tahun terakhir ini. Perubahannya cukup mencolok. Rumahmu sekarang tambah bagus, dan kucermati belakangan ini sering renovasi. Mobilmu juga bagus belum lagi barang-barang berharga lain yang kau miliki."

"Biasa saja kok, Mar. Sama seperti yang lain, usaha serius," jawab Siti datar namun dari raut mukanya tampak menyembunyikan rahasia.

"Masa iya. Kulihat mereka yang serius bekerja, nasibnya tak jauh berbeda. Tak beranjak dari nasib semula."

Perbincangan dua wanita itu akhirnya berlanjut di dalam rumah. Rupanya ada rahasia yang hendak diungkapkannya.

"Kamu serius mau tahu rahasianya?" tanya Siti pada Marni.

"Ya. Terus terang aku iri sama kamu, Ti"

Siti tak mau mengungkapkan masalah yang sebenarnya. Bahkan mempersilahkan tamunya untuk meminum segelas minuman yang telah disediakan.

"Begini saja, Mar. besok Kamis siang kamu ikut aku ke Pelabuhan Ratu."

"Kenapa mesti ke sana?"

"Sudahlah, nanti kamu akan tahu sendiri. Bagaimana?"

"Oke"

Sejak saat itulah Marni mengikuti jejak temannya. Setiap sebulan sekali mereka pergi bersama teman-teman lainnya ke Pelabuhan Ratu untuk mencari pesugihan berharap menjadi orang kaya dengan jalan pintas dimana mereka bersekutu dengan setan.

Memang dalam kesehariannya, Bu Marni tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Sebagaimana seorang muslimah, ia tetap menjalankan kewajibannya. Ia juga pernah mengungkapkan keinginannya untuk pergi haji, dan rencananya, pihak keluarganya sepakat untuk memberangkatkan haji Bu Marni tahun depan. Cuma pada hari-hari tertentu, perempuan ini tetap menjalani ritual ke Pelabuhan Ratu.

padahal di tahun pertama, sudah terbukti tidak ada perubahan berarti pada ekonomi Bu Marni. Namun perempuan ini tetap percaya, nantinya di tahun berikutnya nasib baik mungkin akan berpihak kepadanya.

Setahun lebih sudah berlalu, perubahan yang diharapkan tak kunjung tiba. Situasi ini menyebabkan Bu Marni mulai dilanda stress. Pasalnya sudah banyak biaya dan tenaga yang diperhatuhkan. Ia sering mengumpat-umpat sendiri, menyalahkan orang lain. Keluarganya mulai dibuat resah oleh ulah Marni.

Perempuan ini benar-benar hilang keseimbangannya. Tambah lama kondisi kejiwaannya makin tak karuan. Dokter pun sudah menyatakan, Marni telah mengalami gangguan jiwa dan lebih baik dirawat di Rumah Sakit Jiwa.

Keterangan dokter ini membuat keluarga khawatir jika Bu Marni akan batal berangkat haji, padahal tinggal enam bulan lagi. Keluarga tak patah arang. Pengobatan alternatif dengan metode ruqyah ditempuh.

"Kehadiran saya di sana (rumah Bu Marni) dipanggil oleh keluarga untuk membantu bagaimana caranya agar Bu Marni bisa kembali normal. Saya tanya keluarganya, ternyata ibu itu menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw (mencari pesugihan). Waktu itu, perutnya gede, ucapnya tak beraturan, bahkan sempat mengancam akan menggorok suaminya sendiri. Perilakunya aneh benar-benar telah kehilangan keseimbangan," tutur Pak Sadeli (bukan nama sebenarnya)

Setelah rutin diterapi, agaknya upaya ini membuahkan hasil karena berangsur-angsur kondii kejiwaan Bu Marni membaik. Kondisi Bu Marni mulai stabil dan akhirnya dinyatakan sehat sekaligus siap berangkat ke tanah suci.

**********************************************

Keberangkatan Bu Marni ke tanah suci sesungguhnya memberi harapan segar bahwa nantinya kebiasaan buruk Bu Marni tak lagi terulang dan dapat hidup secara wajar. Mencari rezeki dari jalan yang benar dan halal bukan dengan cara pesugihan. Adi juga selalu memperingatkan agar ibunya tidak perlu mencari-cari kekayaan dengan cara semacam itu.

Harapan itu kian nyata setelah Bu Marni pulang. Tiga bulan pertama, sikapnya begitu baik dan tak tampak lagi kebiasaan lamanya. Di mata Adi, ibunya telah berubah dan sudah menyadari kesalahan masa lalunya.

Namun memasuki bulan keempat, penyakit Bu Marni kambuh lagi. Kembali perempuan itu tergoda oleh ajakan-ajakan teman lamanya. Anehnya Bu Marni tak bisa menolak. Tatkala anaknya memberi saran agar berhenti saja, ia tak menggubris. Bahkan kali ini frekwensi kepergian Bu Marni semakin intens.

Sampai akhirnya di penghujung tahun 2007, penyakit yang diderita Bu Marni kembali bereaksi. Mulanya sakit panas, lama-kelamaan tingkahnya aneh, kadang-kadang mengamuk di bangsalnya seperti orang kesurupan. Lampu penerangan di kamar Kamboja memang terang. Ada beberapa kerabat di sana, tapi ketakutan, kesedihan bercampur dengan pemandangan memilukan hadir di tempat itu. Dan ajal menjemput Bu Marni setelah sebulan di Rumah Sakit dengan prosesi sakaratul maut yang menyedihkan.