Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML Atas

Menolak Dibuatkan KTP dan Mengaku Dibantu Jin Saat Membuat Sumur, PriaIni Tiap Hari Minum Air Comberan Bersama Anak Istri

Belakangan ini Warga Tangerang digegerkan oleh Muhammad Aras Arifin (45) Warga Kunciran, setelah dirinya beserta keluarganya mengaku sempat meminum air comberan hingga menggali sumur sedalam 15 meter dalam waktu semalam dibantu oleh jin.

Menolak Dibuatkan KTP dan Mengaku Dibantu Jin Saat Membuat Sumur, PriaIni Tiap Hari Minum Air Comberan Bersama Anak Istri

Mereka pun tinggal di sebuah gubuk ditengah ramainya Kota Tangerang, dikelilingi pohon tinggi bak tinggal di hutan.

Aras dan kelaurganya mengaku sempat meminum air comberan karena kesusahan untuk mendapatkan air bersih.

Pria tersebut lantas memutuskan untuk menggali sendiri sumur untuk menghasilkan air bersih.

Hebatnya lagi, Aras dan temannya itu hanya membutuhkan waktu sekitar enam jam untuk membuat satu sumur.

Kira-kira alat apa yang digunakan oleh Aras?

Siapa Aras sebenarnya? Simak fakta berikut ini:

1. Bermodal Sebuah Obeng

Menurut penuturan Aras, obeng yang biasa ia gunakan merupakan obeng biasa yang dibeli di toko.

Selain obeng, dirinya tidak membutuhkan alat apapun untuk menggali sumur.

Aras juga mengatakan dalam proses pembuatan sumurnya, mendapat bantuan dari sesosok jin.

"Iya kenapa bisa hanya pakai obeng? Sulit kan mikirnya juga? Ya iya lah, karena saya dibantu kawan lama saya, cuma saya yang bisa lihat. Ya dibantu sama jin dan malaikat," beber Aras kepada TribunJakarta.com di gubuknya berlokasi di Tangerang, Minggu (6/5/2018).

Ia melanjutkan, bahwa untuk melakukan hal di luar akal sehat itu harus dilakukan saat tengah malam.

2. Tanggapan MUI Tangerang

Ketua MUI Tangerang, Kyai Edi Junaidi Nawawi, mengatakan bahwa bila tidak sejalan dengan ajaran Islam maka sudah jelas itu sesat.

"Kalau itu artiannya sudah gak bener lah, tidak sejalan dengan keyakinan kita. Kita kan punya rukun iman dan rukun Islam, kan patokannya itu saja, kalau memang tidak sejalan dengan itu ya sudah itu mah memang tidak benar dan sesat," jelas Edi melalui sambungan telefon di Tangerang, Minggu (6/5/2018).

Tidak berhenti disitu, Edi pun memberi komentar perihal Aras dan keluarganya yang mengonsumsi air comberan untuk minum.

Menurut Edi, dari sisi ajaran agama islam pun itu tidak baik dan tidak dianjurkan oleh agamanya dan menimbulkan kerusakan.

"Ada kaedah begini, menolak kerusakan itu harus didahulukan, kalau dia tidak menerima maka dia akan berhadapan dengan kerusakan. Minum comberan kan sama aja dia dengan menjerumuskan diri sendiri dalam kerusakan kan? Tidak boleh itu dalam ajaran Islam," jelas Edi.

3. Mempercayai Manusia Pertama Adalah Semar

Aras mempercayai bahwa manusia pertama di bumi adalah Semar.

Padahal Semar merupakan nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Semar dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria.

"Orang-orang percaya kalau Adam yang pertama beh, padahal nyatanya bukan, Semar yang pertama," ujar Aras saat dijumpai di gubuknya di Tangerang, Minggu (6/5/2018).

Menurutnya, karakter wayang Semar yang memiliki kuncup, memiliki satu gigi, berperut buncit, hingga berwarna hitam dan putih memiliki arti yang menyinggung bahwa Semar adalah makhluk pertama di dunia.

Menambahkan, Aras mengatakan jika Semar memiliki telunjuk yang berjumlah satu buah yang berarti syahadat.

4. Mengaku Keturunan Sunan Gunung Jati

Aras mengaku seorang keturunan langsung dari Sunan Gunung Jati.

"Ya itu dari orang tua saya ya, emang dari Cirebon juga kan. Ya itu emang benar kebenarannya, coba tanya sekarang siapa yang tahu Syahadat Gunung Jati? Tidak ada, cuma keturunannya saja yang tahu," ujar Aras saat dijumpai di gubuknya, Tangerang, Minggu (6/5/2018).

Saat ditanya bagaimana pelafalan syahadat Sunan Gunung Jati, dirinya menolak.

"Oh tidak bisa, yang mengerti hanya keturunannya langsung," jawab Aras ketika TribunJakarta.com meminta untuk melafalkan Syahadat Sunan Gunung Jati.

Dia pun membeberkan silsilah keluarganya yang berasal dari Demak.

"Buyut saya dari Demak, berat juga karena memang sejarah para Wali, memang kita masih keturunan Sunan Gunung Jati," lanjutnya menambahkan.

5. Menolak Bantuan dan KTP

Sudah sejak dua tahun yang lalu, pihak Kelurahan dekat kediaman Aras mencoba menawarkan bantuan.

Namun, Aras menolak dengan alasan mempunyai cukup finansial dan tidak mau menerima bantuan.

Mendengar kabar terdapat keluarga miskin yang tinggal di gubuk, Lurah Kunciran, Rojali, telah melakukan pendekatan sejak 2016 untuk memberikan bantuan.

"Sekitar pada bulan Agustus 2016 lalu, sudah melakukan komunikasi dengan untuk membantu kebutuhannya seperti membuat KTP yang diakuinya terbakar. Namun, pihak yang bersangkutan tidak mau dan menolak untuk diajak membuat KTP," ujar Rojali di Kantor Kelurahan Kunciran, Tangerang, Kamis (3/5/2018).

Tidak berhenti sampai di situ saja, pada Bulan Mei 2017 pihaknya sempat menyambangi gubuk Aras kembali namun pihak yang bersangkutan menolak.